Film Into The Wild, Cerita Tragis Seorang Petualang Muda

Dalam memilih sebuah film, saya biasanya senang film yang diadopsi dari sebuah kisah nyata. Dari film berbasis kehidupan nyata ini, saya juga mempelajari bagaimana melihat suatu masalah dari sudut pandang yang berbeda, dan semakin aware tentang apa yang terjadi di luar sana, entah karakter manusia dengan keunikannya masing-masing, lingkungan, gaya hidup yang berbeda, dan hal-hal lain yang tak perlu saya alami sendiri hanya untuk memahaminya.

Film Into The Wild merupakan sebuah film drama Amerika tahun 2007 yang didasarkan pada sebuah buku non-fiksi “Into The Wild yang ditulis oleh Jon Krakauer. Rilis pada tahun 2007 untuk umum, film Into The Wild menceritakan tentang petualangan seorang lulusan sarjana sekaligus atlet yang berprestasi bernama Christoper McCandless yang rela meninggalkan kehidupan nyamannya bersama orangtua yang mapan.

Lulus dari jurusan sejarah dan antropologi dengan nilai sempurna, tidak membuat Christoper McCandless terlena dengan gelar kehormatan yang ditawarkan kepadanya. Idealismenya ini dipengaruhi oleh pemikiran Leo Tolstoy, penulis favoritnya, yang membuat Christ tumbuh sebagai pemuda idealis dan cenderung menjauhkan diri dari kehidupan modern yang teratur.  Christ memutuskan untuk menggantungkan hidup pada alam sepenuhnya, mengabaikan risiko apa pun, dan mencoba bertahan di tengah kebekuan dan kesunyian Alaska, The Last Frontier, dataran kejam yang tak kenal belas kasihan.

Petualangan dimulai saat Christ menghancurkan semua kartu identitas, kartu ATM, kartu kredit yang ia miliki, dan mendonasikan hampir seluruh tabungannya sebesar $24.000 untuk kegiatan amal pada akhir Juni 1990. Christ kemudian mengendarai mobil Datsun tua kesayangannya hingga ke suatu tempat di Arizona yang akhirnya harus ia tinggalkan karena terkena terpaan air bah yang datang sewaktu ia tertidur. Tidak ada yang tahu rencana kepergiannya ke alam liar dan keinginannya memisahkan diri dari kehidupan dan orang terdekatnya.

Christ memutuskan untuk melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki dan menyatu dengan alam bebas. Ia pun juga mengganti namanya menjadi Alexander Supertramp sehingga orangtuanya, Walt dan Billie tidak bisa melacak perjalanannya. Di perjalanan ia bertemu dengan Rainey dan Jan dengan sebuah kendaraan truk tua yang akhirnya ditumpangi Christ untuk melanjutkan perjalanan ke tempat selanjutnya. Menginap beberapa malam dengan Rainey dan Jan, Christ menceritakan tentang keluarga dan kehidupannya. Namun, setelah itu Christ memutuskan untuk meninggalkan Rainey dan Jan tanpa pamit kepada mereka.

Dalam setiap perjalanan Christ menemukan tempat baru, teman baru, dan pengalaman baru yang selalu ia tulis dalam buku perjalanannya. Di perjalanan Christ juga sempat bekerja di sebuah peternakan yang dimiliki oleh Wayne Westerberg untuk menyambung kehidupannya. Sayangnya Chris tidak bisa lama bekerja di tempat Wayne setelah tak beberapa lama menetap disini, Wayne ditangkap polisi sebagai buronan.

Christ kembali pergi ke arah Sungai Colorado dan ketika dia ingin meminta izin kepada petugas keamanan sungai dan Christ tidak diberi izin tp christ tetap nekat pergi dengan perahu dayungnya chris diikuti oleh polisi sungai, mendayung ke hilir pada akhirnya Christ menuju ke Meksiko. Disini, Christ merasa tidak mudah menumpang kendaraan di tempat ini, kemudian ia pun pergi ke Los Angeles dengan menumpang kereta barang. Disini pun, nasib Christ cukup apes, petugas setempat yang menemukannya memukul Christ hingga babak belur karena Christ tidak memiliki ID untuk bekerja.

Christ lalu memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke Alaska. Namun, sebelum ke Alaska ia bekerja di sebuah restoran dan bertemu dengan Jan & Rainey kembali di sebuah tempat hiburan. Disini, ia bertemu juga dengan Tracy yang tertarik kepada Christ. Tak terasa waktu cepat berlalu, Christ memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke Alaska setelah merayakan natal bersama Jan & Rainey dan merasakan kebersamaan dan cinta bersama teman-temannya ini.

Di tengah perjalanan menuju Alaska, Christ bertemu dengan seorang kakek pensiunan tentara bernama Ron Franz di California yang kesepian karena keluarganya dibunuh oleh perampok. Christ memutuskan tinggal beberapa bulan di tempat Ron sambil mempersiapkan keberangkatan ke Alaska. Disini, Ron membantu Chris menyiapkan perlengkapan yang akan dibutuhkan Chris selama di Alaska.

Saat Christ sudah siap untuk pergi ke Alaska, Ron menawarkan kepada Christ untuk menjadi cucunya. Namun, Christ menolaknya dengan halus, dan mengatakan, ia harus membicarakannya kepada Ron setelah ia kembali dari Alaska. Kepergian Christ membuat Ron sangat sedih setelah kebersamaan keluarga yang terbangun selama beberapa bulan ini. Di sisi lain, keluarga Christ sangat mengkhawatirkan keberadaan Christ yang belum diketahui juga.

Sampai di Alaska pada April 1992, Christ belajar menemukan jati dirinya. Ia belajar bagaimana manusia bisa bertahan hidup dan bahagia di alam bebas tanpa perlu memikirkan materi. Di tempat ini, Christ tinggal di sebuah bangkai bus yang sudah lama ditinggal oleh pemiliknya. Bus yang hanya tinggal kerangka saja itu adalah buatan International Harvester yang merupakan bagian dari Sistem Transit Antarkota Fairbanks. Bus itu sengaja ditinggalkan ketika cairan salju dan banjir musiman memotong rute sebuah proyek pertambangan bijih besi.  Ia pun menamakan bus ini “Magic Bus”. Untuk memenuhi kebutuhan makannya sehari-hari, Christ memburu binatang dan memakan tanaman yang ada di sekitar, seperti landak, rusa, bebek, umbi-umbian, buah raspberry. Sampai disini, Christ merasa obsesinya menjauhkan diri dari kehidupan modern tercapai.

 

Foto Chris McCandless di depan bus no 142 via http://ceripadley.files.wordpress.com
Namun, kebahagiaan ini berlangsung sangat singkat. Seiring berubahnya cuaca dan musim, Christ menemukan dirinya mulai kesulitan menemukan bahan makanan karena hewan buruan sudah semakin sedikit. Rusa yang ia buru pun tidak bisa dijadikan stok makanan karena tidak ada lemari pendingin, sehingga rusa ini dikerubuti oleh lalat dan belatung. Christ mulai memahami, bahwa alam kasar dan tidak peduli. Saat mencoba menyebrangi sungai, Christ menemukan sungai tersebut cukup deras untuk bisa dilewati oleh Christ seorang diri. Ia terjebak dan tidak bisa kembali.
Kembali ke dalam bus, Christ mulai kelelahan dan kelaparan. Tidak ada makanan yang bisa ia makan. Dari buku botani yang ia bawa, Christ mencoba menganalisa bahan makanan apa yang bisa ia temukan dan makan. Christ mencari dan menemukannya di sekitar Magic Bus yang ia tinggali. Christ kembali ke dalam bus dan kemudian mulai mengkonsumsinya. Namun, esok harinya ia malah demam tinggi, dan tidak ada obat yang ia bawa untuk mengurangi rasa sakit yang diderita Christ. Saat ia membaca bukunya kembali, Christ menyesal dan mengetahui bahwa ia keracunan kacang manis liar yang dipikirnya tanaman kentang liar.

 

Quotes film Into The Wild yang fenomenal.

Tinggal sendirian di Magic Bus membuat Christ tidak bisa melakukan apa-apa di kala ia demam tinggi dan keracunan. Christ hanya bisa banyak berdiam tidur di bus dan pasrah berharap akan ada pemburu yang menemukan dan menyelamatkannya. Di masa-masa kritis ini, Christ merasa sangat menyesal, ia membayangkan kebersamaan bersama keluarganya yang penuh canda dan tawa.
Dalam keadaan seperti ini, Christ juga menggali dirinya dan menemukan sebuah kesimpulan hidup “Kebahagiaan hanya akan nyata apabila dibagi”. Pernyataan yang tertulis di buku catatan perjalanan Christ ini terbukti sebagai rasa penyesalan Christ yang meninggalkan orang-orang kesayangannya dan juga peradaban. Keadaan Christ yang kelaparan, kedinginan, dan demam tinggi semakin membuat keadaan Christ semakin parah, dan akhirnya ia menghembuskan nafas terakhirnya di Magic Bus dalam kesepian. Christ ditemukan oleh para pemburu rusa dua minggu setelah ia meninggal di Magic Bus.

Overall, dengan penyajian sinematography yang indah dalam pemilihan gambar dan lokasi, film Into The Wild berhasil menyajikan nuansa alam Alaska yang alami dan kehidupan di alam bebas yang dikelilingi tebing, hutan, sungai besar yang ekstrem. Buku harian perjalanan Christ pun membuat narasi film ini terlihat lebih hidup dan personal.

Film Into The Wild merupakan gambaran jiwa anak muda yang mencari jari diri di alam bebas. Kisah Chris McCandless ini awalnya ditulis oleh Jon Krakauer dalam majalah Outside edisi Januari 1993 sepanjang 9000 kata. Setelah itu banyak media-media lain yang mengangkat kisah McCandless kepada publik. Jon Krakauer tertarik untuk menelusuri kembali jejak McCandless yang kemudian berhasil dibukukannya, dan diterbitkan pada tahun 1996.

Film non-fiksi Into The Wild ini sangat menarik dari segi konten dan alur cerita yang tidak bisa ditebak pembaca. Jon Krakauer pun melakukan riset detail dengan menjadi McCandless kedua untuk mendapatkan data sedetail-detailnya tentang cerita misteri pemuda ini. Beberapa narasi film juga berasal dari kutipan tertulis yang ada di buku perjalanan McCandless semakin membuatnya menarik untuk ditonton. Saya rekomendasikan film Into The Wild ditonton untuk siapapun yang senang jenis film petualang yang berbasis kehidupan nyata. Oya, kalau kamu ingin tahu cerita detail petualangan McCandless, kamu juga bisa beli versi buku Into The Wild, lho. Buku wajib bagi para petualang alam dan pemilik jiwa yang resah.

Sutradara & Penulis Naskah Film : Sean Penn

Produser Film : Art Linson, David Blocker

Pemeran Film : Christopher McCandless (Emile Hirsch), Walt McCandless (William Hurt), Billie McCandless (Marcia Gay Harden), Carine McCandless (Jena Malone). Jan Burres (Catherine Keener) Rainey (Brian H. Dierker). Wayne Westerberg (Vince Vaughn). Tatro Tracy (Kristen Stewart), Ron Franz (Hal Holbrook)

Selamat menonton yaaaa, readers!

Love,

signforblog

Facebook | Twitter | Instagram | Migme

 

Share this to your friends:

Dee Rahma

Just call me DEE. I love to share all the things related to LIFESTYLE & TRAVEL. HEYDEERAHMA.com is created to capture my stories and hobbies on travel, fashion, beauty, and daily tips. Enjoy!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *